Jelajahi

Kategori
Best Viral Premium Blogger TemplatesPremium By Raushan Design With Shroff Templates

Iklan


 

Ketika Tambang Pergi: Siapa yang Menanggung Kerugian Paska Tambang?

Said Pers
Kamis, 24 September 2026
Last Updated 2026-09-25T05:09:17Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
INGIN BUAT WEBSITE BERITA MURAH??


Oleh: RH
Fakta62.info-

Pertambangan nikel di Bacan, Obi, dan seantero Halmahera Selatan kini menjadi denyut nadi ekonomi yang tak terbantahkan. Jalan diperlebar, listrik menyala, uang beredar. Namun pertanyaan yang jarang disuarakan dengan lantang adalah: ketika bijih habis dan perusahaan pergi, apa yang tersisa untuk kita?
 
Paska tambang bukan sekadar babak baru dalam siklus pembangunan daerah—ia adalah ujian kejujuran kita terhadap masa depan.
 
Secara lahiriah, dampak paska tambang tampak seperti luka yang tak kunjung sembuh. Hutan yang dulu menjaga tanah dan air berubah menjadi lubang-lubang raksasa yang menganga. Sungai yang dulu jernih kini keruh dan tercemar limbah logam berat. Tanah yang subur menjadi tandus; pertanian dan perkebunan yang menjadi tumpuan hidup turun-temurun tak lagi bisa diandalkan. Alam yang memberi kehidupan, kini justru mengancam keselamatan warganya.
 
Dampak sosial-ekonominya tak kalah pahit. Saat tambang beroperasi, muncul kemewahan sesaat: gaji harian, bisnis tumbuh, perputaran uang cepat. Namun begitu produksi berhenti, ribuan pekerja dipecat, usaha sepi, dan kemiskinan kembali merayap—bahkan lebih parah dari sebelumnya. Generasi muda yang terbiasa dengan gaji instan enggan kembali ke ladang; keahlian pertanian yang diwariskan leluhur perlahan hilang. Kita menjadi tergantung pada satu sumber yang akan habis, lalu ditinggalkan tanpa jaminan masa depan.
 
Yang lebih menyakitkan: keuntungan mengalir ke luar daerah, sementara kerusakan tetap menetap di sini. Negara menetapkan aturan pemulihan lingkungan, namun pelaksanaannya lemah dan sering kali tidak memadai. Reklamasi yang dilakukan sekadar formalitas, bukan pengembalian fungsi alam seutuhnya. Masyarakat menjadi korban ganda: diserap tenaganya saat produksi, lalu diabaikan saat selesai.
 
Kita tidak menolak kemajuan atau pemanfaatan kekayaan alam. Tapi keadilan menuntut agar paska tambang tidak menjadi warisan penderitaan bagi anak cucu kita. Perusahaan wajib menyiapkan dana jaminan pascatambang yang nyata dan terkontrol, bukan sekadar angka di atas kertas. Pemerintah daerah harus mulai merancang diversifikasi ekonomi sejak dini—menguatkan pertanian, perikanan, pariwisata, dan kewirausahaan yang mandiri, sebelum satu-satunya sumber penghidupan itu habis.
 
Bukan tentang menutup tambang, melainkan memastikan: ketika mereka pergi, kita tetap berdiri tegak, tidak tergeletak di atas tanah yang rusak dan harapan yang hancur. Alam punya batas, dan masa depan tidak boleh dipertaruhkan demi keuntungan sesaat.
 
Bacan, Halmahera Selatan, dan seluruh negeri ini bukan tambang yang bisa dikosongkan lalu ditinggalkan. Ini rumah kita. Dan rumah ini harus tetap layak huni, jauh setelah suara alat berat berhenti berdenting.
iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Tidak ada komentar:

Iklan

-->