Makassar-Fakta 62 – Komitmen kuat dalam menekan aksi kelompok pelajar dan kenakalan remaja terus ditunjukkan Kapolsek Biringkanaya, AKP Andik Wahyu Cahyono. Di bawah kepemimpinannya, Polsek Biringkanaya mengedepankan langkah preventif melalui pembinaan langsung ke sekolah-sekolah serta penerapan diversi bagi anak yang berhadapan dengan hukum.
Sejak awal pekan ini, AKP Andik Wahyu bersama seluruh perwira turun langsung menjadi inspektur upacara (Irup) di sejumlah SMA di wilayah hukum Biringkanaya. Langkah tersebut dinilai sebagai strategi humanis dan progresif dalam membangun kedekatan dengan pelajar sekaligus mencegah keterlibatan mereka dalam aksi kelompok yang selama ini meresahkan masyarakat.
“Pencegahan harus menjadi prioritas. Penindakan adalah langkah terakhir. Anak-anak ini adalah generasi masa depan, jadi pendekatannya harus edukatif dan persuasif,” tegas AKP Andik Wahyu, Rabu (11/2/2026)"pada awak media.
Wilayah Biringkanaya sendiri dikenal memiliki dinamika kelompok pelajar yang kerap terpolarisasi. Situasi ini berpotensi memicu gesekan antar kelompok yang melibatkan siswa sekolah. Melihat kondisi tersebut, Kapolsek memilih turun langsung menyampaikan pesan-pesan
kamtibmas, bahaya tawuran, penggunaan senjata tajam seperti busur, hingga dampak hukum yang dapat ditimbulkan.
Tidak hanya memberikan imbauan, Polsek Biringkanaya juga aktif berkoordinasi dengan pihak sekolah untuk melakukan langkah preventif, termasuk razia knalpot brong dan pemeriksaan barang berbahaya di lingkungan pendidikan.
Kedepankan Pendekatan Restoratif
Yang membedakan kepemimpinan AKP Andik Wahyu adalah konsistensinya dalam menerapkan sistem diversi terhadap pelajar yang terlibat pelanggaran hukum. Ia memastikan setiap penanganan anak mengacu pada Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak.
“Kalau pelakunya masih anak-anak, tidak serta-merta ditahan. Kami lakukan diversi, yaitu penyelesaian di luar peradilan umum. Anak harus dibina, bukan langsung dihukum,” jelasnya.dalam proses tersebut, Polsek Biringkanaya menggandeng Dinas Sosial untuk melakukan pembinaan sementara sebelum proses diversi dilaksanakan. Pendekatan ini tidak hanya memberi efek jera, tetapi juga membuka ruang perbaikan bagi anak agar tidak mengulangi perbuatannya.
Langkah ini mendapat respons positif dari masyarakat karena dinilai mampu menekan potensi residivisme sekaligus menjaga masa depan generasi muda.Edukasi Narkoba dan Penanganan Sistem “Tempel”Selain fokus pada aksi kelompok pelajar, AKP Andik Wahyu juga aktif mengedukasi masyarakat terkait maraknya peredaran narkoba sistem “tempel”. Meski kewenangan penanganan narkotika berada di tingkat lebih tinggi, Polsek Biringkanaya tetap mengambil peran strategis dalam pencegahan.
Ia menyoroti pentingnya penanganan awal yang tepat oleh masyarakat agar pelaku tidak lepas dari jerat hukum.
“Kalau menemukan transaksi tempel, jangan masyarakat yang mengambil barangnya. Biarkan pelaku yang mengambil dan direkam sebagai bukti. Ini penting agar kasus bisa diproses secara hukum,” ujarnya.Tak hanya itu, fenomena anak-anak yang menghirup lem juga menjadi perhatian serius. Setiap anak yang terjaring langsung dipanggilkan orang tua, ketua RT, serta Bhabinkamtibmas untuk dilakukan pembinaan dan diarahkan ke rehabilitasi mandiri.
Perkuat Patroli dan Sinergi dengan Masyarakat
Untuk mempersempit ruang gerak kelompok yang berpotensi mengganggu kamtibmas, Polsek Biringkanaya juga rutin menggelar patroli di titik-titik rawan, termasuk kawasan yang kerap dijadikan tempat berkumpul remaja pada malam hari.Dalam pelaksanaannya, AKP Andik Wahyu menggandeng Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat (FKPM) sebagai mitra strategis. Ke depan, peran FKPM akan semakin diaktifkan guna memperkuat pengawasan berbasis masyarakat.
Pendekatan komprehensif yang dilakukan Kapolsek Biringkanaya menunjukkan bahwa menjaga keamanan tidak hanya soal penindakan, tetapi juga soal kepemimpinan yang hadir, membina, dan memberi solusi.Di tangan AKP Andik Wahyu, Polsek Biringkanaya tidak sekadar menjaga keamanan wilayah, tetapi juga berperan aktif menyelamatkan generasi muda dari jerat kekerasan dan penyalahgunaan narkoba.
jurnalist"(Kul indah)





