![]() |
| Mari Kita Jujur |
Di banyak tempat hari ini, prestasi bukan lagi mata uang utama untuk naik jabatan. Ia sudah kalah pamor—dikalahkan oleh “kedekatan”, “kepentingan”, dan jaringan tak kasat mata yang jauh lebih menentukan.
Kita sering mendengar jargon manis: profesionalisme, kinerja, integritas. Tapi dalam praktiknya, itu semua kerap hanya jadi dekorasi pidato. Realitasnya jauh lebih sederhana—siapa yang dekat, dia yang dapat.
Yang ironis, mereka yang benar-benar bekerja justru sering jadi penonton. Mereka yang lembur, yang turun langsung menyelesaikan masalah, yang menjaga nama baik institusi—justru berdiri di pinggir, menyaksikan jabatan lewat begitu saja ke tangan orang lain.
Bukan karena mereka tidak layak. Tapi karena mereka tidak bermain dalam “permainan”.
Sementara itu, ada juga yang naik dengan langkah mulus. Rekam jejak biasa saja, bahkan kadang minim prestasi, tapi posisi strategis bisa diraih dengan mudah. Seolah-olah ada jalur cepat yang tidak tercantum dalam aturan resmi—jalur yang tidak bisa diakses oleh mereka yang hanya mengandalkan kerja keras.
Inilah ironi yang mulai dianggap normal.
Lebih berbahaya lagi, kondisi ini mengirim pesan yang sangat jelas—meski tidak pernah diucapkan secara terang-terangan:
“Kerja keras itu opsional. Yang penting tahu harus dekat ke siapa.”
Jika pesan ini terus dibiarkan, jangan heran kalau budaya kerja ikut berubah. Orang tidak lagi berlomba menjadi yang terbaik, tetapi berlomba menjadi yang paling “aman”. Bukan meningkatkan kualitas, tapi meningkatkan posisi dalam lingkaran.
Lalu, untuk apa bicara soal prestasi?
Untuk apa ada penilaian kinerja, penghargaan, atau bahkan slogan-slogan motivasi?
Semua itu akan terdengar seperti lelucon—ironis, bahkan sinis.
Yang lebih memprihatinkan, keputusan-keputusan seperti ini sering dibungkus rapi dengan kalimat normatif: “sudah melalui mekanisme”, “ini hasil pertimbangan pimpinan”, atau “ada faktor lain yang tidak bisa dijelaskan”.
Padahal publik—dan terutama orang dalam organisasi—tidak buta. Mereka melihat. Mereka menilai. Dan mereka tahu kapan sebuah keputusan dibuat dengan adil, dan kapan dibuat dengan kepentingan.
Jika prestasi terus diabaikan, maka yang sebenarnya sedang dirusak bukan hanya individu—tetapi sistem itu sendiri. Kepercayaan perlahan runtuh, loyalitas berubah jadi formalitas, dan dedikasi kehilangan makna.
Dan pada akhirnya, organisasi akan dipenuhi oleh dua jenis orang: yang bermain sistem, dan yang menyerah pada sistem.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi siapa yang paling berprestasi.
Tapi siapa yang paling pandai menempatkan diri dalam lingkaran kekuasaan. Karena di “pasar jabatan” hari ini, prestasi mungkin masih dicatat—tapi tidak lagi menentukan.
(Britmi)






