Jelajahi

Kategori
Best Viral Premium Blogger TemplatesPremium By Raushan Design With Shroff Templates

Iklan


Perempuan Dalam Bingkai Etalase

Said Pers
Senin, 11 Mei 2026
Last Updated 2026-05-12T02:53:49Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
INGIN KEGIATAN ANDA/ORGANISASI/POLITIK DILIPUT??


Oleh : Kurniaji Holle
Opini
FAKTA62. INFO-

Mari kita berbicara tentang etalase. Disana terpajang beragam pakaian yang tidak mengarah pada kenyamanan, melainkan tentang keindahan dan kecocokan bagi pembeli saat dipandang. Sehelai pakaian itu juga dipakaikan pada sebuah manekin yang disoroti lampu terang untuk terlihat setiap lekukan tubuh yang dapat menggoda, dan diberi label harga berdasarkan seberapa besar ia mampu memikat mata yang melintas.

Hal ini tentu saja adalah perkara yang normal, karena yang kita bicarakan adalah sebuah produk yang tidak memiliki nyawa bahkan perasaan. Namun celakanya, logika ini mulai merengsek masuk dalam tatanan sosial yang berujung pada budaya patriarkis, perempuan seringkali diperlakukan persis seperti produk pakaian tersebut.

Tulisan ini mencoba membedah sebuah fenomena menyesakkan dimana perempuan tidak lagi dilihat sebagai subjek yang bernapas melainkan sebuah objek yang memiliki fungsi untuk memuaskan selera pasar, dalam hal ini adalah hasrat laki- laki yang bringas. Seperti yang sedang terjadi saat ini, Publik maluku utara kian dibuat resah tatkala beredar pemberitaan tentang pelecehan seksual yang kian meraja lela. Pelaku pelecehan seksual kerap kali melancarkan aksinya dengan memegang payudara wanita yang sedang berjalan dengan motornya. 

Ironsisnya Tindakan yang dilakukan oleh pelaku kejahatan seksual itu sering kali dianggap sebagai kelalaian perempuan yang tidak bisa menjaga dirinya. Padahal jika kita telisik secara mendalam pelecehan seksual ini terjadi karena pembiasaan konstruksi sosial yang patriarkis sehingga membentuk psikologis pelaku yang mengaggap perempuan sebagai objek pemuas nafsu, artinya orang dengan kecenderungan pelaku kejahatan seksual ini merasa bahwa dia memiliki ruang yang luas untuk melancarkan aksinya.

Metafor dari kata etalase sendiri adalah simbol kapitalisme. Dalam konteks pembiasaan lingkungan kita, perempuan seringkali dianggap sebagai komoditi yang dinilai berdasarkan harga nya. Tubuh perempuan seringkali dijual dalam iklan, media, dan interaksi sosial. 

Pembiasaan inilah yang kemudian memicu kondisi psikologis yang disebut dengan manifestasi power and control dari seorang laki laki pelaku kebejatan tersebut. Seperti halnya vedio yang beredar di medi sosial tiktok. Dua orang pria yang menjadi pelaku begal payudara itu terlihat santai paska mereka melancarkan aksinya. 

Dari rawut wajah nya seolah olah menunjukan sebuah dominasi gender sebagaimana seorang pelanggan yang masuk ke dalam toko baju lalu mencoba sehelai demi sehelai pakaian yang terpajang di toko baju tersebut.

seperti yang dikatakan oleh Fredericson dan roberts (1997) dalam objectification theory. Bahwa dalam budaya patriarki, tubuh perempuan seringkali dipandang sebagai objek visual dan fisik untuk kesenangan laki laki. 

Tindakan begal payudara di tempat umum adalah bentuk ekstreme dari pelecehan jalanan (catcalling yang meningkat menjadi kontak fisik). Tidak bisa kita pungkiri di masyarakat sendiri sanksi sosial terhadap pelecehan verbal masih lemah, pelaku merasa memiliki "hak" untuk mengakses tubuh perempuan di ruang publik. Pemicunya bukan nafsu yang tak terkendali, melainkan keinginan untuk mempermalukan dan mendominasi perempuan di ruang terbuka.

Itulah gambaran untuk menjelaskan pemicu terjadinya begal payudara. Sekarang kita akan melihat bagaimana dampak bagi si korban. Tentu saja hal sebejat ini adalah hal yang sangat di jauhi oleh semua orang, sebab dampak nya yang berkepanjangan dan menimbulkan trauma psikologis yang mendalam bagi perempuan. Salah satunya yaitu Hypervigilance. Kondisi mental ini memberikan siaga konstan pada otak korban dan perempuan lain yang mendengar nya sehingga membuat otak masuk dalam mode fight or flight setiap kali berada diruang publik.

Menurut Judith Herman (trauma and recovery 1992), trauma seksual merusak hubungan individu dengan komunitasnya. Berdasarkan teori ini kita juga bisa melihat keruntuhan ruang aman bagi perempuan di ruang publik. Bagi korban begal payudara, jalanan Ternate tidak lagi dilihat sebagai fasilitas umum melainkan sebagai zona bahaya. Korban akan mengalami kondisi waspada berlebih secara terus menerus. Detak jantung meningkat drastis hanya karena 

mendengar suara motor yang mendekat dari belakang. Sebuah respond Post Trauma Stres Dissorder (PTSD) dimana otak gagal membedakan antara situasi aman dan ancaman masa lalu. Bayangkan betapa lelahnya mental si korban tatkala mereka merasakan ancaman ini, pada akhirnya ruang publik yang seharusnya menjadi tempat aman membuat gambaran yang mengerikan bagi mereka para korban dan tanpa sadar mereka kaum perempuan pun bertanya dimana lagi mereka akan berlindung jika di setiap titik dalam hidup mereka dianggap sebagai objek pemuas kebejatan laki laki yang bringas itu.

Di akhir tulisan ini penulis ingin mengajak kita semua untuk lebih waspada, ini bukan hanya sekedar permasalahan gender. Ini tentang mereka yang hanya ingin hidup layaknya manusia namun naas nya mereka selalu menjadi korban pada tiap tindakan diluar batas normal seorang laki laki.

Pada akhirnya membiarkan koginitif kita pada perempuan seperti "etalase" adalah sebuah pembiaran terhadap benih-benih kekerasan. Selama kita masih menoleransi cara pandang yang mereduksi manusia sebagai sebuah pajangan, maka selama itu pula jalanan di kota Ternate dan di kota manapun akan tetap menjadi Medan perburuan yang mencekam bagi perempuan. Raga perempuan bukan lah sebuah benda, tubuh perempuan bukan untuk di konsumsi oleh tatapan, apalagi di invasi sebagai kejahatan. Ia adalah rumah bagi martabat, jiwa yang bernapas, dan kedaulatan yang mutlak.
iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Iklan