KERINCI, FAKTA62.INFO – Pemerintah Kabupaten Kerinci memosisikan kebudayaan sebagai pilar strategis pembangunan daerah melalui gelaran Orasi Seni dan Budaya Kerinci, Selasa (10/2). Dalam agenda tersebut, Bupati Kerinci Monadi, S.Sos., M.Si., menginstruksikan perombakan tata kelola Museum Kerinci agar bertransformasi menjadi ruang edukasi modern berbasis digital.
Langkah ini menjadi debut strategis bagi Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Kadisparbud) Kerinci, Jamal Penta Putra, S.Pd., M.Si., dalam menerjemahkan visi pemerintah daerah untuk menjaga relevansi budaya lokal di tengah disrupsi digital.
Museum Sebagai "Living Museum"
Bupati Monadi menegaskan bahwa museum tidak boleh lagi dipandang sebagai sekadar tempat penyimpanan artefak yang pasif. Beliau menekankan perlunya inovasi agar kekayaan intelektual "Bumi Sakti Alam Kerinci" dapat diakses secara luas oleh generasi muda.
"Kita tidak boleh membiarkan kekayaan nenek moyang hanya menjadi pajangan bisu. Museum Kerinci harus bertransformasi menjadi pusat peradaban yang hidup. Anak muda harus bangga dengan akarnya agar jati diri bangsa tetap terjaga," ujar Monadi saat memimpin inspeksi di fasilitas museum.
Tiga Pilar Inovasi Kebudayaan
Merespons arahan tersebut, Kadisparbud Jamal Penta Putra menyatakan tengah menyusun peta jalan (roadmap) penguatan narasi koleksi museum. Fokus utama dinas saat ini adalah menjadikan museum sebagai destinasi edukasi utama di Provinsi Jambi.
Ada tiga poin prioritas yang akan segera diimplementasikan:
2.Aktivasi Ruang Publik: Optimalisasi pelataran museum sebagai pusat kegiatan seni rutin bagi komunitas lokal.
3.Integrasi Literasi Sejarah: Kolaborasi lintas sektor untuk mewajibkan kunjungan museum bagi siswa sekolah sebagai bagian dari kurikulum muatan lokal.
"Kami ingin setiap pengunjung pulang dengan pemahaman mendalam tentang sejarah, bukan sekadar melihat benda mati. Digitalisasi adalah kunci agar sejarah kita tetap relevan bagi generasi Z," kata Jamal.
Acara yang berlangsung khidmat tersebut juga menampilkan berbagai atraksi seni tradisi, mulai dari pembacaan sastra lama hingga tari tradisional. Kegiatan ini diharapkan menjadi pemicu kebangkitan ekosistem kreatif di Kerinci yang mengakar pada nilai-nilai tradisi namun dikemas dengan manajemen modern.
(S boy)








