Jelajahi

Kategori
Best Viral Premium Blogger TemplatesPremium By Raushan Design With Shroff Templates

Iklan


MEME TOLORI : Arwah Penjaga Abu Gunung Dukono

Said Pers
Sabtu, 09 Mei 2026
Last Updated 2026-05-11T03:50:11Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
INGIN KEGIATAN ANDA/ORGANISASI/POLITIK DILIPUT??



HALUT, FAKTA62-INFO-

Di tanah Galela, Halmahera, ketika matahari terbenam dan kabut tebal mulai turun dari puncak gunung, orang-orang tua selalu berpesan: “Jangan berjalan sendirian di dekat lereng Dukono saat malam tiba. Meme Tolori sedang berjalan, mencari sesuatu yang hilang.”
 
Dahulu kala, saat Gunung Tarakani meletus dahsyat, langit berubah menjadi hitam pekat, debu dan abu menutupi seluruh daratan Galela. Penduduk yang selamat lari berbondong-bondong menyeberang ke Pulau Morotai, meninggalkan rumah dan ladang mereka yang sudah hancur lebur. 

Namun, ada satu nenek tua bernama Tolori yang menolak pergi. Ia berdiri diam di tengah reruntuhan, matanya menatap tajam ke arah puncak gunung yang masih mengeluarkan asap panas.
 
“Tonah mana ai topora ma kawasa,” gumamnya dengan suara bergetar. “Ngohi to loda wa, ma sababu bahala tosi bolo kasi.” tanah ini tanah nenek moyangku, aku tidak akan pergi. Aku harus menyelesaikan tugas ini."
 
Ia mengambil keranjang anyaman yang disebut saloi, lalu mengumpulkan abu panas dan sisa-sisa letusan yang berserakan di mana-mana. Tali pengikat keranjang itu ia buat dari daun kusu-kusu kering tali yang rapuh, tipis, seolah tidak akan mampu menahan beban berat itu.
 
Orang-orang yang masih tinggal sedikit mencoba menahannya, namun Tolori hanya diam, lalu berjalan perlahan ke arah selatan, menembus kabut dan debu yang masih beterbangan.
 
Langkahnya berat, napasnya pendek. Abu di dalam keranjang itu bukan sekadar debu biasa; di dalamnya terkandung api yang belum padam, amarah bumi yang belum tenang. Semakin jauh ia berjalan, semakin berat beban yang ia pikul, hingga tiba di sebuah tempat yang sekarang menjadi jantung Gunung Dukono. Tiba-tiba… krak!
 
Suara retakan memecah kesunyian malam. Tali daun kusu-kusu itu putus seketika. Keranjang itu jatuh, menimpa tubuh nenek Tolori yang sudah tua dan lemah. Ia berteriak keras, suara itu bergema di seluruh lembah, lalu terbenam dalam debu yang segera menumpuk menutupi tubuhnya.
 
Abu itu terus menumpuk, semakin tinggi, semakin besar, hingga menjulang menjadi gunung baru yang kita kenal sekarang. Dan di bawah sana, terkubur selamanya, adalah tubuh Meme Tolori dan jiwanya yang terperangkap selamanya.
 
Sejak hari itu, penduduk Galela tidak pernah lagi merasa tenang di dekat gunung itu.
 
Setiap malam, terutama saat bulan mati dan angin bertiup kencang, warga sering mendengar suara langkah kaki berat berderap di atas kerikil dan tanah kering. Disusul suara rintihan panjang, sedih namun penuh amarah, yang terdengar seperti orang yang sedang memikul beban yang tak tertahankan.
 
“Uwehhh… tubuso… itubuso… nisigiliho ai bobiliku… nisigiliho ai kiaro.” berat... sangat berat… kembalikan taliku… kembalikan keranjangku….”
 
Suara itu terdengar mendekat, lalu menjauh, seolah-olah ada sosok tua yang terus berjalan mondar-mandir di lereng gunung, mencari tali daun kusu-kusu yang putus itu.
 
Banyak orang yang pernah melihatnya, namun tak ada yang berani menatapnya terlalu lama. Sosoknya tinggi kurus, kulitnya abu-abu pucat seolah tertutup debu gunung yang tak pernah hilang. Rambutnya dikonde, kusut, dan berantakan, bergerak liar meski tak ada angin.
 
Matanya bukan seperti mata manusia, melainkan dua titik merah menyala, persis seperti bara api yang masih membara di kawah Dukono. Ia selalu terlihat membawa sesuatu yang tak berbentuk di punggungnya, seolah-olah masih memikul keranjang saloi yang berat itu.
 
Jika ada orang yang nekat berjalan sendirian di dekat sana saat malam, Meme Tolori akan mendekat. Ia tidak berteriak atau menyerang dengan tangan kosong.
 
Ia hanya berdiri diam di belakang kabut, lalu membisikkan kata-kata yang dingin menusuk tulang: “Ai bibiliko nia sari kasih, masababu ai kiaro taaho idadi waso." apakah kamu melihat taliku? Taliku putus… aku tidak bisa membawa keranjangku pergi”
 
Siapa pun yang mendengar bisikan itu akan merasa seluruh tubuhnya kaku, darahnya seolah berhenti mengalir. Jika ada yang berani menjawab atau menoleh, mereka akan melihat wajah Meme Tolori yang penuh debu dan bekas luka bakar, mulutnya terbuka lebar menampakkan gigi yang hitam dan runcing, lalu ia akan tertawa suara tawa yang kering, kasar, dan mengerikan, bergema hingga ke seluruh pelosok desa.
 
Konon, Meme Tolori tidak membenci manusia. Ia hanya marah dan sedih. Ia merasa gagal menyelesaikan tugasnya memindahkan api dan abu gunung itu ke tempat yang aman. Ia terperangkap selamanya di sana, menjadi penjaga abu dan api Dukono, menunggu seseorang yang akan datang mengembalikan talinya yang putus, atau membebaskannya dari beban yang dipikulnya ribuan tahun lamanya.
 
Hingga hari ini, penduduk Galela masih ingat. Ketika asap tebal mengepul dari kawah Dukono, orang tua akan berkata pelan: “Meme Tolori mo'ngamo ka'.” Ia sedang marah. Ia sedang memikul abu itu lagi. Jangan mendekat, jangan mengganggunya. Kalau tidak, ia akan membawa kamu bersamanya ke dalam debu abu selamanya.
 
Dan di antara suara angin dan gemuruh bumi, masih terdengar bisikan itu, samar namun jelas, mengingatkan semua orang: Di bawah megahnya Gunung Dukono, ada jiwa yang tak pernah beristirahat, terus berjalan, mencari selamanya mencari.
 
Oleh : Muhammad Diadi.

Mamuya, 09 Mei 2026.
 
𝑪𝒂𝒕𝒂𝒕𝒂𝒏: 𝑪𝒆𝒓𝒊𝒕𝒂 𝒊𝒏𝒊 𝒉𝒂𝒏𝒚𝒂 𝒌𝒂𝒓𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒊𝒎𝒂𝒋𝒊𝒏𝒂𝒕𝒊𝒇 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝒑𝒆𝒏𝒖𝒍𝒊𝒔, 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒎𝒆𝒏𝒄𝒐𝒃𝒂 𝒎𝒆𝒎𝒃𝒊𝒏𝒈𝒌𝒂𝒊 𝒔𝒆𝒃𝒖𝒂𝒉 𝒄𝒆𝒓𝒊𝒕𝒂 𝒓𝒂𝒌𝒚𝒂𝒕 𝒚𝒂𝒊𝒕𝒖 𝑨𝒔𝒂𝒍-𝑴𝒖𝒂𝒔𝒂𝒍 𝑮𝒖𝒏𝒖𝒏𝒈 𝑫𝒖𝒌𝒐𝒏𝒐 𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎 𝒃𝒊𝒏𝒈𝒌𝒂𝒊 𝒄𝒆𝒓𝒊𝒕𝒂 𝒎𝒊𝒔𝒕𝒊𝒔 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒔𝒆𝒓𝒊𝒏𝒈 𝒊𝒂 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒓 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝒃𝒆𝒃𝒆𝒓𝒂𝒑𝒂 𝒕𝒆𝒕𝒖𝒂𝒉 𝒌𝒂𝒎𝒑𝒖𝒏𝒈, 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒌𝒆𝒃𝒆𝒏𝒂𝒓𝒂𝒏𝒏𝒚𝒂 𝒎𝒂𝒔𝒊𝒉 𝒃𝒆𝒍𝒖𝒎 𝒅𝒂𝒑𝒂𝒕 𝒅𝒊𝒑𝒂𝒔𝒕𝒊𝒌𝒂𝒏. 𝑵𝒂𝒎𝒖𝒏, 𝒄𝒆𝒓𝒊𝒕𝒂 𝒓𝒂𝒌𝒚𝒂𝒕 𝒔𝒆𝒑𝒆𝒓𝒕𝒊 𝒊𝒏𝒊 𝒎𝒆𝒏𝒂𝒎𝒃𝒂𝒉 𝒌𝒉𝒂𝒛𝒂𝒏𝒂𝒉 𝒌𝒆𝒃𝒖𝒅𝒂𝒚𝒂𝒂𝒏 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒔𝒆𝒃𝒂𝒈𝒂𝒊 𝒐𝒓𝒂𝒏𝒈 𝑮𝒂𝒍𝒆𝒍𝒂, 𝑯𝒂𝒍𝒎𝒂𝒉𝒆𝒓𝒂 𝑼𝒕𝒂𝒓𝒂.


iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Iklan