Jelajahi

Kategori
Best Viral Premium Blogger TemplatesPremium By Raushan Design With Shroff Templates

Iklan


 

Hancur Dilindas Truk Sawit, Jalan Kota Binjei - Alur Merah dan Jalan Kampung Beusa - Peunaron di Aceh Timur Rusak Parah

Wira
Rabu, 04 November 2026
Last Updated 2026-11-04T07:31:36Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
INGIN BUAT WEBSITE BERITA MURAH??


Fakta62.info/Nasruddin ketua FPRM
ACEH TIMUR, Fakta62.info-

Kerusakan jalan lintas antar kecamatan di Aceh Timur semakin memprihatinkan. Dua ruas jalan vital yang menjadi urat nadi perekonomian warga, yakni Jalan Kota Binjei menuju Alue (Alur) Merah dan Jalan Kampung Beusa menuju Peunaron, kini hancur lebur.


Kerusakan parah tersebut diduga kuat akibat setiap hari dilintasi oleh kendaraan besar bertonase berat milik perusahaan perkebunan kelapa sawit yang beroperasi di sekitar wilayah tersebut.


Berdasarkan laporan warga, kondisi Jalan Kota Binjei - Alur Merah dan Jalan Kampung Beusa - Peunaron kini berlubang dalam, aspal terkelupas hingga ke tanah dasar dan sangat berbahaya bagi pengendara. Padahal, jalan tersebut baru beberapa waktu lalu dibangun menggunakan uang rakyat melalui APBK Aceh Timur.


Menanggapi kerusakan dua jalur vital tersebut, Ketua Forum Peduli Rakyat Miskin (FPRM) Aceh, Nasruddin, geram dan mendesak Pemerintah Kabupaten Aceh Timur melalui Dinas Perhubungan untuk segera membuat aturan tonase.Rabu 04/11/3026.


"Kami dapat laporan langsung dari warga dan petani. Jalan Kota Binjei - Alur Merah dan Jalan Kampung Beusa ke Peunaron sudah hancur. Itu jalan yang setiap hari dipakai warga angkut sawit, karet, dan hasil tani. Sekarang rusak parah karena setiap hari dilindas truk-truk besar milik perusahaan perkebunan sawit yang ODOL. Kami desak Dishub Aceh Timur segera buat aturan tonase yang jelas!" tegas Nasruddin.


"Kita tidak anti perusahaan. Tapi tolong, perusahaan juga harus punya hati. Jalan itu dibangun untuk kepentingan rakyat agar mudah mobilisasi hasil pertanian dan perkebunan rakyat. Bukan untuk truk-truk raksasa perusahaan. Kalau jalan rakyat ini yang dipakai terus oleh perusahaan, harusnya perusahaan ikut tanggung jawab perbaikannya lewat CSR," ujarnya.


Nasrudsin mendesak Bupati Aceh Timur untuk segera memerintahkan Dinas Perhubungan membuat kajian dan menerbitkan Perbup tentang pembatasan tonase dan kelas jalan di seluruh jalan kabupaten, khususnya di jalur Kota Binjei - Alur Merah dan Kampung Beusa - Peunaron."


"Memanggil seluruh pimpinan perusahaan perkebunan sawit yang armadanya melintasi dua jalur tersebut untuk duduk bersama dan meminta pertanggungjawaban mereka. Perusahaan wajib mengalokasikan dana CSR-nya untuk perbaikan jalan yang mereka lalui, atau membangun jalan khusus perusahaan (special purpose road) agar tidak lagi menggunakan jalan rakyat."


"Memasang portal pembatasan tonase dan rambu-rambu peringatan di pintu masuk Jalan Kota Binjei - Alur Merah dan Jalan Kampung Beusa - Peunaron, serta melakukan razia gabungan secara rutin antara Dishub, Satlantas Polres Aceh Timur dan Dinas Perhubungan untuk menindak truk-truk ODOL yang masih nekat melintas."


"Jangan sampai kami dan warga harus turun ke jalan dan melakukan aksi blokir jalan serta penyetopan truk-truk perusahaan baru pemerintah mau bertindak. Ini sudah sangat meresahkan. Miliaran uang rakyat akan terus sia-sia jika tidak ada aturan tonase yang jelas. Kami beri waktu 1x14 hari kepada Dishub untuk merespon keluhan warga Kota Binjei, Alur Merah, Kampung Beusa dan Peunaron ini," tutup Nasruddin.(*)

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Tidak ada komentar:

Iklan

-->