LAMPUNG UTARA, Fakta62.Info-
Pagi itu langit Pungguk Baru mendung. Tanah di badan jalan sudah berubah jadi bubur cokelat. Jejak ban truk dan motor saling bertumpuk, dalam dan dalam, seperti bekas cakaran di tubuh jalan yang sudah menyerah.
Inilah Jalan Pungguk Baru–Papan Rejo. Ruas sepanjang beberapa kilometer yang jadi urat nadi dua desa di Kecamatan Abung Timur. Kini, ia lebih mirip jalur maut.
Dari jauh terdengar suara mesin menggerung. Sebuah truk bak terbuka merayap pelan, bodinya miring hampir 30 derajat. Di belakangnya, seorang pengendara motor mematikan mesin, turun, dan mendorong kendaraannya melewati kubangan. Sepatunya tenggelam sampai mata kaki.
“Jujur takut. Kalau hujan, jalannya licin kayak sabun. Banyak ibu-ibu yang jatuh bawa anak. Kami lewat sini setiap hari taruhan nyawa,” kata Rudi, warga Papan Rejo, Sabtu (16/5/2026)
Setiap pagi ia mengantar istrinya kerja ke Pungguk Baru. Jaraknya tak jauh, tapi risikonya besar. Satu slip, dan bisa berakhir di parit.
Jalan ini bukan sekadar penghubung dua desa. Ia adalah jalur hidup. Petani mengangkut singkong, anak sekolah berangkat belajar, ibu-ibu membawa balitanya ke puskesmas. Semua lewat sini.
Tapi sekarang, kendaraan roda empat sering memilih putar balik. Risikonya terlalu besar.
“Kalau bawa hasil singkong pakai mobil, bisa nyangkut di tengah. Rugi waktu, rugi tenaga. Padahal ini jalan satu-satunya,” ujar Siti, petani di Pungguk Baru, sambil menatap karung singkong yang diturunkan dari motornya.
Musim hujan memperparah keadaan. Di sisi kanan, badan jalan longsor sedikit demi sedikit ke tebing. Sisa jalan yang bisa dilewati hanya selebar 1,5 meter. Cukup untuk satu motor. Kalau berpapasan, salah satu harus mengalah, masuk ke lumpur.
Anak-anak sekolah yang biasanya bersepeda kini turun dan menuntun. Bukan karena malas, tapi karena takut terjatuh.
Ketakutan warga bukan tanpa alasan. Tahun lalu, seorang lansia jatuh dari motor di titik longsor dan patah tulang. Bulan lalu, seorang ibu hamil hampir tergelincir saat diantar suaminya ke bidan.
“Kami sudah sampaikan ke kepala desa dan kecamatan. Tapi sampai sekarang belum ada perbaikan besar. Cuma ditimbun seadanya, dua minggu hancur lagi,” keluh Marlin, warga Pungguk Baru, suaranya hampir putus.
Bagi mereka, permintaannya sederhana. Bukan jalan mulus seperti tol. Cukup aman. Cukup supaya ibu hamil tak perlu takut ke bidan, supaya anak sekolah tak perlu basah lumpur setiap pagi.
“Kita nggak minta mulus seperti jalan tol. Cukup aman buat dilewati. Anak-anak sekolah, ibu hamil, orang tua-semua lewat sini. Jangan tunggu ada korban jiwa baru diperbaiki,” tegas Marlin.
Hingga tulisan ini dibuat, belum ada keterangan resmi dari Dinas PUPR Lampung Utara dan Kecamatan Abung Timur terkait rencana perbaikan ruas jalan Pungguk Baru–Papan Rejo.
Di ujung jalan, truk itu masih merayap. Lumpur masih menanti. Dan warga, masih bertaruh nyawa setiap hari.





