Aceh Timur, Fakta62.info-
Direktur FAKSI Keadilan Aceh, Ronny H, mendesak Pemerintah Pusat segera mengevaluasi dan mengaudit pengelolaan kekayaan alam Aceh selama 20 tahun terakhir. Ia menilai eksploitasi yang terjadi selama ini tidak berkeadilan dan hanya menguntungkan segelintir orang.
Roni ketua FAKSI"Sangat menyakitkan bila kita hanya jadi penonton atas kekayaan alam yang melimpah. Semuanya hanya lewat bersama debu di depan mata," tegas Ronny, Kamis 6 Agustus 2026.
Menurut Ronny, rakyat Aceh seolah tidak punya hak atas kekayaan di tanahnya sendiri.
"Jangan rakyat Aceh hanya dijadikan penonton, dan seolah tidak berhak sama sekali menikmati hasil kekayaan alam tanah air mereka sendiri," ujarnya.
Karena itu ia meminta adanya langkah nyata berupa audit menyeluruh.
"Perlu audit menyeluruh atas kekayaan alam Aceh yang telah dikeruk selama 20 tahun terakhir. Agar ada transparansi dan pertanggungjawaban yang jelas," desaknya.
Ronny menyebut Pemerintah Pusat harus bertanggung jawab mengoreksi ketidakadilan tersebut.
"Pemerintah pusat perlu mengevaluasi pengelolaan sumber daya alam Aceh. Harus yang berkeadilan dan memakmurkan rakyat Aceh. Agar tidak ada lagi ketimpangan dan kecemburuan sosial. Agar tidak ada lagi sakit hati dan rasa diperlakukan tidak adil," katanya.
Ia bahkan memberi peringatan. Jika tuntutan keadilan ini tidak dipenuhi, maka persoalan di Aceh tidak akan selesai.
"Jika ini tidak dilakukan oleh pemerintah pusat, maka Aceh tidak akan tentram sampai kapanpun. Karena generasi demi generasi akan mengungkit setiap hasil kekayaan alam mereka yang dirampas," tegas Ronny.
"Pemerintah pusat mesti fokus memikirkan keadilan bagi Aceh atas kekayaan alamnya," lanjutnya.
Salah satu contoh yang kini jadi perhatian publik adalah isu Blok Andaman.
"Perhatian rakyat Aceh sangat besar atas kekayaan alam itu. Jangan sampai rakyat Aceh dibuat kecewa untuk kesekian kalinya," ujarnya.
Di akhir pernyataan, Ronny menuntut Pemerintah Pusat menghapus praktik lama.
"Pemerintah pusat sudah harus menghapus cara-cara lama yang tidak adil dan menyakitkan," pungkas alumni Universitas Ekasakti itu menutup keterangannya.(Relis)






