Majene, Fakta62.info-
Harapan SDN 4 Galung-Galung Jl. Ammana Pattolawali, Kec. Pamboang, Kab. Majene, Sulawesi Barat untuk mendapatkan program rehabilitasi bangunan sekolah dari pemerintah pusat pada tahun 2025 hingga kini belum terwujud. Padahal, pihak sekolah mengaku telah mempersiapkan seluruh persyaratan administrasi sejak jauh hari termasuk ukurannya karena kurang dari 1 meter atau setengah meter ndak bisa dapat bantuan rehabilitasi setelah saya ukur di sini di lokasi saya SDN 4 Galung-Galung sudah masuk pas.
Kepala SDN 4 Galing-Galung, Rahmaniah, S.Pd., M.M., menyampaikan kekecewaannya lantaran tidak adanya kejelasan informasi terkait program rehabilitasi yang bersumber dari pusat di Jakarta “Sudah sering saya tanyakan ke pihak yang katanya menangani proyek. Jawabannya selalu ‘tunggu saja’. Terakhir saya hubungi itu bulan Desember, katanya dana dari pusat sedikit jadi sekolah kami tidak dapat. Saya juga bingung, karena dinas pendidikan pun jawabannya sama, mereka juga tidak tahu,” ujar Rahmaniah, Pada Sabtu (24/1/2025).pada awak media
yang mana rencana rehabilitasi sekolah ini sudah dua kali direncanakan dapat bantuan rehab termasuk antara lain UKS, WC, ruang komputer dengan 6 Rombel Ruang kelas.
Ia menjelaskan, sekolahnya telah berdiri sejak tahun 1972 dan saat ini memiliki lima ruang belajar yang kondisinya memprihatinkan, terutama pada bagian atap yang dinilai sudah tidak layak.“Ini bukan sekolah baru. Usianya sudah puluhan tahun. Atapnya sudah rusak,termasuk lantai kita bisa liat sendiri ruang kelasnya tidak layak. Padahal jumlah siswa kami sekitar 102 orang dengan 21 tenaga pendidik. Anak-anak ini adalah masa depan bangsa,” tegasnya.
Rahmaniah menilai, seharusnya program rehabilitasi benar-benar memprioritaskan sekolah yang kondisinya rusak berat, bukan sekadar perbaikan ringan pada bangunan yang masih layak.
“Kalau memang anggaran rehab itu khusus, seharusnya betul-betul dilihat kondisi riil sekolah. Jangan yang masih layak justru diperbaiki lagi, sementara yang sudah sangat membutuhkan malah terlewat,” katanya.Ia juga mengungkapkan bahwa pada masa libur sekolah akhir tahun 2025 lalu, pihak Dinas Pendidikan sempat turun ke lokasi. Namun saat itu dirinya tidak berada di tempat.
“Waktu liburan terakhir itu ada dari dinas dan pihak yang disebut-sebut pegang proyek datang, tapi saya tidak ada di sekolah. Setelah itu saya hubungi lagi, jawabannya tetap sama, disuruh menunggu,” tambahnya.
Rahmaniah berharap pemerintah pusat dan daerah lebih serius dalam memperhatikan kondisi fisik sekolah, khususnya sekolah-sekolah lama yang masih beroperasi dan menampung ratusan siswa.
“Bagaimana anak-anak bisa belajar dengan tenang kalau ruang kelasnya tidak layak? Ini bukan soal bangunan semata, tapi soal masa depan pendidikan karena“Rehabilitasi sekolah adalah upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas fasilitas pendidikan melalui perbaikan bangunan yang mengalami kerusakan.” tutupnya
Jurnalist",(Kul indah)





